Ibu Guru Sd Eksibition

Perkenalakan namaku Erma (Nama Samaran) aku bekerja sebagai guru SD di sekolah negri di kotaku. Sekolah tempat ku bekerja ini bukanlah sekolah favorit, apalagi gedungnya sangat kecil yg menyebabkan jumlah muridnya juga sangat sedikit.




Namun aku menikmati saat-saat bekerja di sekolah ini, karena tempat inilah aku bisa menyalurkan hasratku dan ketertarikan sex ku yg agak menyimpang… Tapi aku akan menceritakan sedikit tentang diriku terlebih dahulu.

Sejak kecil aku sudah memiliki ketertarikan yg cukup besar terhadap sex. aku nonton film xxx pertama kali kelas 6 SD. Film xxx itu milik temanku. Sebenarnya dia enggan meminjamkannya kepadaku. Sehingga dia memberi syarat untuk memperlihatkan CD ku. Namun karena keingintahuanku yg cukup besar, aku pun menyingkapkan rok ku di hadapannya selama 5 menit dan berhasil membujuknya untuk meminjamkan film xxx itu padaku.

Dan itulah pertama kalinya aku nonton film xxx, dan aku pun mencoba bermasturbasi kira-kira 6-7 bulan kemudian. aku tak langsung mencobanya karena takut kenapa-kenapa, namun akhirnya aku tak tahan juga. Tetapi selain hal itu, ada satu lagi yg baru kusadari ketika itu aku mencoba masturbasi. Entah kenapa ketika aku mencapai klimaks, bayangan wajah temanku yg sedang melihat CD ku muncul dengan tiba-tiba. Dan ternyata aku sangat menyukai sensasi ketika ia melihat CD ku.

aku menjadi begitu bergairah ketika mengetahui ada orang yg memandangi tubuhku. Anehnya, aku sama sekali tdk tertarik untuk mengajaknya untuk ngentot. Yg aku bayangkan hanyalah ketika aku mempertontonkan CD ku. Dan ketika itulah aku menyadari bahwa aku seorang eksibisionis. Namun itu membuatku ingin melakukannya lagi. Namun hal ini cukup sulit karena aku tak ingin memberikan citra buruk ke keluargaku.

Sejak saat itu aku hanya beberapa kali sempat mempraktekan fantasiku. Dan ini lah yg paling menyenangkan.

Ketika itu aku sudah duduk dibangku sekolah kelas 2 SMU. Waktu itu hari sudah sore dan dirumahku hanya ada aku. Dan aku sedang menonton film xxx yg kupinjam dari temanku tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu rumahku. Mulanya kudiamkan saja, karena aku sedang asyik meraba-raba tubuhku sendiri.

Namun terdngar suara anak tetanggaku yg memanggil-manggil. Katanya dia ingin mengambil layang-layang yg terjatuh di belakang rumahku. Lalu tiba-tiba muncul ide gilaku. Dan aku pun keluar kamar dengan hanya memakai kaos singlet dan CD.

Lalu kubuka pintunya sedikit sehingga tubuhku tak terlihat dari luar. Setelah berpura-pura menanyakan maksud kedatangannya, aku pun mempersilahkan masuk. Ketika dia sudah masuk dan melihatku dengan jelas, anak itu sangat terkejut melihatku berpakaian seperti itu. Dan kulihat anak itu sungguh terpana memandangi CD ku.

“Heh, liatin apa sih kamu dek??” kataku.
“Eh, nggak. Maaf mbak nggak sengaja” katanya dengan malu
“Halah kamu” kataku sambil tersenyum padanya yg mengisyaratkan bahwa aku tdk marah. Dia pun hanya menundukkan wajahnya dengan malu.

Lalu ketika mengantarkannya kebelakang rumahku untuk mengambil layang-layang, aku pun mendapat ide yg lebih gila lagi. aku berhenti di depan pintu kamar mandi, dan berkata kepadanya.

“Eh, sebentar yah dek mbak mau pipis dulu”
“Ya udah, mbak pipis dulu aja” katanya. Anak itu benar-benar nggak tau apa yg akan kulakukan.

Lalu aku masuk kekamar mandi, namun aku berhenti di depan pintu dan melepas kaos singlet dan CD ku tanpa menutup pintu kamar mandinya dan anak itu masih berdiri persis di depan pintu kamar mandi. Setelah itu aku membalikkan tubuhku dan terlihatlah ekspresi yg selama ini menjadi fantasi sexku. Yaitu wajah kekanakan seorang bocah yg merona merah malu-malu ketika melihat tubuh bugil sorang gadis.

Namun kegilaanku tdk berhenti sampai di situ saja, aku pun berjongkok dan mengeluarkan pipis yg memang sedang banyak waktu itu. Dan karena kami sedang berhadapan (walaupun dibatasi pintu kamar mandi), air kencingku muncrat melewati batas kamar mandi. Air kencingku mengenai telapak kakinya dan sedikit membasahi lututnya. Anak itu hanya terdiam memandangi memekku dan tak memperdulikan air kencingku yg membasahi kakinya.

aku benar-benar sangat menikmati saat-saat ini. Sempat terpikir untuk masturbasi langsung di depan anak itu, namun aku berhasil menahan birahiku.
Setelah selesai pipis, aku tak membersihkan memekku dan bangkit berdiri disebelahnya. Lalu aku menarik bagian bawah baju anak itu dan memakainya untuk mengusap memekku. Lalu aku berkata padanya,

“Maaf ya dek dah nunggu” sambil tersenyum semanis mungkin.

Anak itu benar-benar tak mempercayai apa yg sudah kulakukan dan hanya bergumam nggak jelas menjawab perkataanku lagi.

“Heii, jadi apa nggak nih ngambil layanganya??” tanyaku karena dia cuma bengong sambil mengendus bajunya yg kupakai mengusap memekku
“Eh iya Mbak j..jjadi…” katnya dengan suara bergetar
“Ya udah ayo” kataku…

Sampainya dibelakang rumahku, aku sengaja menyenggol jemuranku sampai baju-bajuku terjatuh. Dan dengan membelakangi nak itu, aku lalu menunggingkan pantatku setinggi mungkin sambil mengambil baju-bajuku yg terjatuh. aku yakin bahwa lubang anusku akan terlihat jelas. Setelah selesai, aku pun memberikan layangannya dan mengantarkan anak itu ke pintu depan.

Namun aku meminta anak itu untuk tdk menceritakan hali ini kepada siapapun. Dan anak itu pun hanya mengangguk tanda mengerti…
Setelah anak itu meninggalkan rumahku aku segera kembali kekamarku, dan bermasturbasi dengan liarnya, dan aku melakukan itu berulang kali sampai-sampai tubuhku terasa sangat lemas.

Anak tersebut sama sekali nggak tau kalau dia sudah memberikan kenikmatan yg sungguh luar biasa kepadaku.

Beberapa tahun kemudian aku diterima bekerja di sebuah sekolah negri di kotaku. Sebenarnya aku tdk mengharapkan kejadian indah di masa lalu tersebut untuk terjadi lagi. Karena aku berfikir susah mencari kesempatannya. Dan yg bisa aku lakukan hanya dengan mengenakan rok yg agak pendek namun masih dibawah lutut dan duduk dengan mengangkangkan kakiku sedikit. aku sangat berhati-hati melakukan ini dan tdk bisa terlalu sering, karena biasanya aka bercerita dengan teman-temannya..

Kesempatan itu aku dapatkan ketika aku diangkat menjadI guru BP. aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. aku langsung merencanakan di minggu kedua jabatanku. aku mencari murid-murid yg pendiam dan penurut lalu mencari berbagai alasan untuk memanggilnya ke ruang BP (Ruang BP ini terpisah agak jauh dibagian belakang sekolah)

Korban pertamaku bernama Ringgo. Dia murid kelas 6 yg biasanya memilikki nilai-nilai yg cukup bagus namun prestasinya menurun ketika aku menjadi wali kelasnya. aku tau anak itu tdk berkosentrasi belajar karena aku selalu memandanginya dan tersenyum kepadanya ketika yg lain tdk memperhatikan.

Wajah anak itu tdk menarik, karena itu aku yakin dia akan menjadi salting ketika kupandangi dan dia memang kurang populer di kalangan teman-teman sekelasnya. Murid-murid yg seperti inilah yg selalu jadi korbanku. Karena biasanya mereka akan menuruti perintahku.

Hari sudah siang ketika dia mengetuk pintu keruang kerjaku. Sudah waktunya pulang sekolah dan biasanya murid-murid langsung pulang kerumah masing-masing. aku sudah menyuruhnya memberitau orang rumah yg menjemputnya bahwa dia kupanggil keruang BP untuk membicarakan nilainya dan akan mengantarnya pulang setelah selesai. aku pun mempersilahkannya masuk ke ruang kerjaku. Lalu aku pun berbasa basi dengannya sejenak lalu aku dengan sengaja menjatuhkan pulpenku ke seberang meja dan memintanya mengambilkannya untukku. Tentu saja ketika dia mengambilnya aku mengangkangkan lebar kakiku, memperlihatkan CD ku yg berwarna putih, lalu langsung menutupnya kembali.

Setelah itu ia kembali duduk dengan wajah memerah dan dia menjadi gugup. Lalu kutanya padanya,
“Ringgo, kenapa wajahmu memerah, kamu nggak enak badan ya?” kupegang keningnya lalu lehernya, terus menyusuri pipinya dan terakhir kusentuh bibirnya dan kumasukkan jariku kedalam mulutnya.

Anak itu tersentak kaget, tapi tetap diam aja. Mungkin dia berfikir, ‘kapan lagi bisa ngulum jari ibu guru kesayanganku’. Lalu aku mengeluarkan jariku dari mulut anak itu dan kukulum jariku yg tadi dan meludah sedikit ke jari telunjukku dan kumasukkan jari telunjukku kemulutnya dan berkata padanya,
“Tuh kan… lidah kamu anget, kamu sakit ya?” kataku

Anak itu cuma menggelengkan kepalannya, dan mulai menghisap jariku. aku membiarkannya beberapa menit lalu duduk kembali kekursiku, dia keliatan kecewa, ‘tenang aja akan kuberikan yg lebih baik nanti’ kataku dalam hati.
Lalu aku mulai bertanya kepada anak itu tentang nilai-nilainya yg mulai meorosot, dan menanyakan sebabnya. Anak itu pun berkata selama ini dia tdk bisa berkosentrasi selama di kelas. Lalu aku bertanya kenapa, anak itu tak mau menjawabnya. aku pun memaksanya menjawab dan mulai membujuknya.

Kukatakan kepadanya, bahwa sangat penting untuk mengetahui sebabnya karena dia harus menghadapi ujian nasional sebentar lagi dan kalau kami tdk mengetahui alsannya maka pertemuan ini hanya sia-sia saja. Lalu anak itu pun berkata dengan suara pelan dan bergetar,

“Sebenarnya.. Ri.. Ringgo suka sama Ibu” lalu aku berpura-pura kaget, dan tersenyum semanis mungkin.

“Ringgo, memangnya kamu sudah bisa suka sama cewek??” lagipula kenapa kamu malah sukanya sama Ibu, teman-teman kamu kan banyak yg cantik-cantik?”

“Sso.. soalnyaaa, Ibu lebih cantik sih. Ringgo selalu memandangi wajah ibu ketika Ibu mengajar”

“Kalau itu ibu juga tau kok, tapi ibu kira kamu ngeliatin ibu dengan serius karena kosentrasi dengan pelajaran. Tapiii.. ada satu yg aneh ni”

“Apa itu Bu?”

“Kok sewaktu Ibu duduk di meja kosong didepanmu, kamu jadi ngeliat oaha ibu sih?? kamu sebenarnya suka atau nafsu sama Ibu??” kataku berani.
Anak itu langsung menjawab dengan nada ketakutan.
“Ah nggak kok Bu, mungkin waktu itu Ringgo lagi ngelamun”
“Aduhh kamu nggak perlu bohong kok sama Ibu. Tadi aja kamu berlama-lama ngambil pulpen Ibu karena ngintipin Ibu kan??”
“Ah ng..nggak kok Bu, tadi, Ringgo…”

“Ringgo….” kataku langsung memotongnya, “Kalau nilai kamu merosot gara-gara negliatin CD Ibu kamu sendiri yg rugi?? kalau cuma CD si kamu boleh liat kapan aja kok” setelah berkata begitu aku berdiri dan duduk di atas meja sambil mengangkangkan kakiku lebar-lebar.

Kaki sebelah kiriku kunaikkan ke atas meja dan kakiku yg sebelah kanan kuletakkan di sela-sela kedua paha anak itu. Dan jempol kakiku mulai menggelitik burungnya.

“Tuh kamu boleh liat CD Ibu sepuasnya. Sayang sekali kan kalau cuma gara-gara ini nilai kamu merosot sayang??” anak itu benar-benar syok melihat pemandangan indah itu tepat di depannya.

Sampi-sampai anak itu lupa menjawabku. Lalu kutarik wajah anak itu ke selangkanganku sampai menyentuh CD ku, lalu kujepit kepala anak itu dengan kedua pahaku dengan berhati-hati untuk memberinya ruang bernafas. Sensasinya sungguh luar biasa, memekku sudah sangat basah dibalik CD ku. Apalagi selama melakukan ini, aku terus berbincang-bincang dengannya seolah-olah tdk terjadi apa-apa.

Setelah beberapa menit, aku melepaskan jepitan pahaku, dan beridiri membelakangi anak itu. Sekali lagi aku menarik kepala anak itu namun kali ini ke arah pantatku, dan yg membuatku mnyukai anak ini, dia diam saja menurut. Kutempelkan wajah anak itu ke pantatku. Dan bisa kurasakan dia menghirup nafas dalam-dalam. Keliatnya dia sangat menyukai aroma pantatku.

Dan kali ini juga, aku tetap berbincang-bincang dengannya. Setiak kali anak itu berbicara, angin dari mulutnya membuat duburku terasa geli dan sangat merangsangku. Karena sudah tak tahan lagi, aku menyusupkan jari ke dalam CD ku dan mulai masturbasi. Lalu aku menyuruh anak itu menggesek-gesekkan wajahnya di pantatku. Anak itu pun menurut saja tanpa banyak tanya. Lalu aku pun masturbasi sampai puas. aku pun mulai mendesah mengerang kenikmatan, berulang kali kupanggil namanya.

“Ringgo.. aaghhh… aahhh… ayo ringoo… tempelkan wajahmu lebih dalam lagiii, nak…”
“Ii.. iya Bu…” ketika anak itu menjawab, lagi-lagi nafasnya membuat geli duburku dan nafsuku pun semkani menggila.
“Aaaghhh Ibuu mau keluarrr Ringgo… ooohhh… ssshhhhh… oohhh.. benar-benar nikmattt” aku yakin walaupun dia belum mengerti apa yg sedang kulakukan, dia juga sangat menikmati permainan ini.

Setelah itu, aku kembali duduk di atas meja, lalu menyuruh anak itu menurunkan CD ku. Anak itu pun menurut dan, dengan gugup dia mulai melorotkan CD ku sampai terlepas. Lalu aku pun mengangkangkan lebar kedua kakiku dan memperlihatkan memekku padanya.

aku hanya diam saja, aku menunggunya untuk mencium memekku tanpa kuperintahkan. Dan benar saja, dengan perlahan anak itu mulai mendekatkan wajahnya ke memekku. Mulanya anak itu hanya menciumi saja, lalu kuaarkan dia cara-cara yg bisa membuatku nikmat, dan dia cukup cepat belajar. Sebentar saja aku sudah mulai menikmati permainannya.

“Aaagghhh.. nikmat sekali sayang… jilatin terus memek Ibu sayang…. ooohhhhh… nanti Ibu kasih kamu nilai yg bagus deh. Aaaghhh… terus Ringgo sayang.. Ibu keluaarrrr… ooohhhh… nikmat sekaliiihh jilatanmu….”

“Terima kasih ya Ringgo…” kataku padanya dengan manja.

“Ringgo juga seneng kok Bu. Ringgo mau kok kapan aja Ibu mau dijilatin lagi. aku pun tertawa dan berkata lagi kepadanya.

“Duhhh Ringgo.., baik banget kamu. Emangnya kamu suka banget ya sama Ibu?”

“Ya Bu, Ringgo mau disuruh apa aja sama Ibu” katanya
“Aah yg bener kamu?? kalau begitu kamu mau nggak minum pipir Ibu?? dari tadi Ibu nahan pipis tapi Ibu males ke kamar mandi nih” anak itu memandang wajahku tdk percaya.

“Tapi pipis itu kan jorok Bu?” – sex dibawah umur –
“Lho katanya Ringgo suka sama Ibu, masa pipis Ibu aja kamu ngga mau minum sih sayang? apa lagi kalau Ibu susurh kamu makan eek Ibu??”
“Eeh.. Ring.. Ringgo mau kok Bu. Terserah Ibu saja dech” lalu aku pun menarik wajah anak Itu dengan sedikit kuat karena aku juga sering menghayalkan ini. Dan aku mulai mengincingi mulut anak itu, dan ternyata dia cukup menyukainya karena dia meminum air kencingku dengan cepat agar tak tumpah kemana-mana.

Setelah keluar semua air kencingku, aku menyuruh anak itu menjilati memekku sampai bersih.
Setelah selesai, aku pun berpakaian, dan duduk kembali ke kursiku.

“Ringgo, kamu nggak boleh nyeritain ke siapa-siapa tentang kejadian hari ini yah? nanti Ibu nggak bisa main-main kayak gini lagi sama kamu”
“Iya Bu, Ringgo nggak akan cerita-cerita”
“Terima kasih ya sayang, Ibu seneng banget hari ini, nanti lain kali kamu yg akan Ibu beri kenikmatan, sayangnya hari sudah sore jadi Ibu antar aja kamu pulang ya??”
“Iya Bu” katanya…
Setelah itu, aku pun mengantarnya pulang, dan berbasa basi sebentar dengan orang tuanya. Sesampainya di rumah aku masih merasa horny dan kembali masturbasi sebentar lalu mandi. Untung saja besok adalah hari libur, karena hari ini aku benar-benar lelah.

Malam itu aku pun tertidur dengan senyum penuh kepuasan, karena membayangkan si Ringgo meminum air kencingku dan memakan semua kotoranku. Hahahahaha, Hidupku benar-benar Indah!!!! 
Ibu Guru Sd Eksibition Ibu Guru Sd Eksibition Reviewed by Emily Young on 16:46 Rating: 5

No comments:

statistics

Most Trending

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.